Jayapura YAMEKAABII NEWS,– Kepala Rumah Sakit Umum Daerah Abepura, drg. Aloysius Giyai, M. Kes mengatakan, usaha memutus mata rantai kematian di Papua dapat dilakukan jika seluruh pihak berani mengambil tanggungjawab.
“Tak ada solusi, selain segera buat kebijakan yang signifikan, bahkan revolusioner, terlebih dalam upaya menyelamatkan populasi orang asli Papua yang ada sekarang,” kata Giyai, kemarin.
Menurut dia, untuk itu diperlukan rumusan dan terobosan dalam berbagai aspek agar angka kematian orang Papua dapat dibendung secara sistematis. “Yang jelas, sistem kebijakan dalam pelayanan kesehatan mutlak sebagai kiat memutus mata rantai kematian. Namun untuk semua itu, perlu pula ada pemetaan masalah, agar kebijakan yang keluar, tepat sasaran,” ujarnya.
Giyai menambahkan, usaha menyelamatkan orang Papua dari kematian, sudah dibuktikan RSUD Abepura. “Kita memberikan pelayanan optimal, jangan ada nyawa lagi melayang sia-sia,” ucapnya.
RSUD Abepura kini menjadi barometer di Papua. Selain menerapkan layanan kesehatan gratis bagi orang asli Papua, RS ini juga memperoleh akreditasi khusus rumah sakit dengan layanan prima. “Pengelolaan limbah kita kelola dengan baik, tidak mencemari lingkungan. Ini rumah sakit milik orang Papua, kita berusaha menjadi yang terbaik,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengakui ada kekurangan yang mesti dibenahi. “Misalnya, soal kebersihan rumah sakit, atau menyelaraskan tugas pokok dengan usaha mendekatkan diri pada masyarakat,” katanya.
Seluruh aktivitas dan persoalan kesehatan di Papua dituangkan Giyai dalam bukunya. Ia juga menyebut Otonomi Khusus sebagai pemicu kematian di Papua. “Otsus itu membuat orang Papua stress, uang otsus hanya dinikmati pejabat dan mereka yang berkuasa, sementara rakyat kecil menderita,” paparnya.











